DWI DIUJIWANTI

Minggu, 27 Mei 2012

SAPAAAN

 BAB II
KAJIAN PUSTAKA


2.1 Sosiolinguistik

             Istilah sosiolinguistik terdiri dari dua unsur, yaitu sosio dan linguistic. Sosio adalah seakar dengan social, yaitu berhubungan dengan masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat dan fungsi kemasyarakatan. Sedangkan linguistik adalah ilmu yang mempelajari atau membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur bahasa (Fonem, morfem, kata, kalimat) dan hubungan antar unsur-unsur itu (struktur) termasuk hakikat dan pembentukan unsur-unsur itu. Dapat pula dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari atau membahas aspek-aspek kemasyarakatan, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatn sosial ( Nababan, 1999:2).

2.2 Kajian Sosiolinguistik

          Sosioliguistik lazim dibatasi ilmu yang mempelajari ciri dan fungsi berbagai variasi bahasa serta hubungannya diantara bahasawan dengan ciri dan fungsi itu dalam suatu masyarakat bahasa. Di dalam tindakan bahasa pada hakikatnya seorang penutur telah mengambil keputusan untuk memilih suatu variasi tertentu berupa bentuk-bentuk linguistik.
          Dalam sosiolinguistik ada yang disebut dengan istilah gregar ousness yang berarti member manusia untuk selalu hidup bersama orang lain. Proses sosialisasi antar manusia ini hanya dimungkinkan karena dengan bahasaa manusia dapat mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya supaya ia bisa memen uhi soosialnya. Hasrat sosial tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Hasrat bergabung dengan manusia sekelilingnya. Dalam sosiolinguistik manusia sekelilingnya ini disebut masyarakat ujaran.
2.    Hasrat bergabung atau menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya.
Sebagai kesimpulan dapat disebutbahwa masyarakat itu diikuti oleh bahasa, sebab  dengan bahasa seseorang bisa bersosialisasi.

2.3 Sapaan

            Sapaan berasal dari kata “sapa” yang berarti perkataan untuk menegur (menegur bercakap-cakap dan sebagainya), kemudian mendapat akhiran- an menjadi “sapaan” yang berarti ajakan untuk bercakap; teguran;ucapan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998:783). Jadi pengertian sapaan merupakan seperangkat kata-kata atau ungkapan yang dipakai untuk menegur dan memanggil para pelaku dalam peristiwa bahasa.
            Bentuk sapaan ditentukan oleh beberapa faktor usia, jenis kelamin, kedudukan atau posisi, penghargaan, sopan santun dan kekeluargaan. Pemakai bentuk sapaan yang menggunakan terbatas pada masyarakat pemakaian bahasa tertentu Robinson (dalam Mustapa, 1990:7).

2.4 Sistem
       Sistem adalah seperangkat unsure yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk totalitas , teori asa dan sebagainya, metode (Depdikbud,1998:894). Sistem yang dimaksud adalah seperangkat unsur sapaan bahasa yang secara teratur saling berkaitan, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.        
  
2.4.1 Sapaan dalam Keluarga
        Sapaan dalam keluarga adlah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa orang-orang atau anak-anak yang masih mempunyai hubungan persaudaraan langsung maupun persaudaraan tidak langsung. Persaudaraan langsung adalah yang disebabkan oleh silsilah keturunan, misalnya kakek, nenek, ayah, ibu, anak, dan cucu. Bagaimana cara menyapa orang-orang tersebut, tentunya disesuaikan fungsi peran antara pembicara dan lawan bicara.
     Penggunaan sapaan dalam bahasa Jawa yang mempunyai hubungan  persaudaraan langsung yang disebabkan oleh silsilah keturunan, seperti kakek (mbah), nenek (mbah), ayah (pa’e), ibu (ma’e), anak perempuan (ndu’), anak laki-laki (le),dan cucu (puttu).      
2.4.2    Sapaan di Luar Keluarga
      Sapaan di luar keluarga disebut pula sapaan dalam masyarakat. Sapaan dalam masyarakat adalah sapaan yang digunakan untuk menyapa orang-orang yang tidak mempunyai hubungan keturunan atau sapaan terhadap sesama warga dalam masyarakat.

2.5 Bahasa
        Bahasa adalah alat penghubung atau alat komunikasi anggota masyarakat yaitu individu-individu sebagai manusia yang berpikir merasa dan berkeinginan pikiran, perasaan, dan keinginan baru terwujud bila dinyatakan, dan alat untuk menyatakan itu adalah bahasa (Badudu, 1992:2). Disisi lain Finochiato ( dalam alwasilah, 1992:2)berpendapat bahwa, bahasa adalah suatu sistem symbol vokal yang arbitrer memungkinkan semua orang dalam satu kebudayaan tersebut untuk berkomunikasi atau berinteraksi.
Perbedaan dalam tingkat kedudukan dan usia dinyatakan dengan pemakaian kata yang lebih atau kurang “tinggi” (hormat), dan pengucapan kalimat dan anda yang dipergunakan. Senada dengan pendapat di atas, juga mengemukakan dua hal yang dibedakan yaitu:
1.    Ucapan atau tulisan terhadap seseorang yang lebih, sama atau kurang dalam tingkat kedudukan atau usia.
2.    Ucapan atau tulisan tentang seseorang yang lebih, sama atau kurang.
Bentuk sapaan ditentukan oleh beberapa faktor usia seperti yang telah dijelaskan, jenis kelamin, kedudukan atau posisi, penghargaan, sopan santun dan kekeluargaan. Pemakai bentuk sapaan yang menggunakan terbatas pada masyarakat pemakaian bahasa tertentu.

       

SISTEM

 BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
        Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa seperti di Jawa Tengah, Yogyakarta, JawaTimur. Selain itu bahasa Jawa juga digunakan oleh penduduk yang tinggal dibeberapa daerah lain seperti di Sulawesi Tenggara. Masyarakat di daerah ini tersebar melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak penjajahan belanda.
        Bahasa Jawa di pakai sebagai alat komunikasi antar warga masyarakat di Konawe Selatan khususnya di desa Bima-maroa. Mengingat bahasa Jawa  dalam kedudukannya menempati posisi yang sama dengan bahasa daerah lain yang ada di nusantara merupakan sarana komunikasi utama masyarakat penuturnya, maka perlu untuk membina dan mengembangkan bahasa daerah tersebut, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab kita semua, khususnya bagi penuturnya itu sendiri.
         Setiap bahas daerah memiliki nilai kesantunan berbahasa, demikian pula halnya dengan bahas Jawa. Dalam penggunaan sapaan dalam bahasa daerah sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat penuturnya, termasuk bahasa Jawa. Meskipun dalam percakapan sehari-hari masih menggunakan bahasa Jawa, namun kata sapaa untuk silsilah keluarga sudah dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa Asing.
Untuk menghindari kemungkinan punahnya unsur-unsur kebahasaan tersebut terutama yang berkaitan dengan sapaan bahasa Jawa, maka perlu perhatian dan pengkajian yang serius melelui penelitian ini. Oleh karena itu, penulis merasa terpanggil untuk meneliti “ Sistem Sapaan Bahasa Jawa”.
1.1.2 Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka masalah yang akan dikemukakan dalam penelitian ini adalah “ Bagaimanakah Sistem Sapaan Bahasa Jawa?”
1.2    Tujuan dan Manfaat
1.2.1    Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan  sistem sapaan bahasa Jawa.
1.2.2    Manfaat penelitian
Manfaat yang ingin diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Untuk ememperlihatkan  kekhasan sistem sapaan bahasa Jawa
2.    Bagi guru, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran di sekolah, terutama sekolah yang menetapkan bahasa daerah sebagai mata pelajaran kurikulum muatan local.
3.    Sebagai bahan pembanding rujukan bagi peneliti selanjutnya.





ANALISIS TEKA-TEKI

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN 

3.1 Analisis
         Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah yang berasal dari kata yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa inggrisitu adalah ilmu yang mempelajari ilmu tanda seperti bahasa, kode, atau lambang.
            Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopo (1991:54) tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Dimana ada tanda disana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) yang mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indera kita yang disebut dengan signifier, dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung didalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.
          Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of ekspression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf kata, gambar, warna, objek dan sebagainya. Petanda terletak pada level of conted (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang duiungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna.

3.2 Pembahasan Teka-teki
         Teka-teki dapat dianggap sebagai salah satu hasil sastra melayu lama pada taraf permulaan, tetapi dapat juga disebut sebagai salah satu jenis folklor melayu. Sebagaimana diketahui dalam teka-teki, isi atau maksudnya secara langsung tetapi disuruh menerka, disamarkan atau disembunyikan. Sehubungan dengan ini, untuk menyatakan maksud secara tidak langsung seperti dalam teka-teki, dijumpai pula dalam kebiasaan menggunakan lambang, misalnya bunga kamboja melambangkan kematian, buah delima wanita cantik, dan jeruk masam tidak menerima pinangan.
           Demikianlah dalam kesusastraan Melayu acapkali apa yang dimaksudkan itu tidak diucapkan dengan kata-kata yang tepat tetapi dikatakan dengan sajak atau kiasan untuk disuruh terka dan artikan. Acapkali hal demikian itu berupa permainan dan godaan, pertunjukan  kepandaian dan kegemaran. Seringkali pula hal itu dilakukan untuk memelihara perasaan orang lain untuk menakuti pembalasanya (Hooykas, 1952:3).
Dalam makalah teka-teki ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semiotik yang mempelajari tanda, yang selalu mengacu pada sesuatu hal atau benda yang lain yang disebut referent. Seperti pada contoh teka-teki yang dijumpai pada masyarakat melayu. Masyarakat melayu itu kebiasaan menggunakan lambang atau tanda dalam menggunakan teka-teki yang isi atau maksudnya tidak dikemukakan secara langsung tetapi disuruh terka, disamarkan, atau disembunyikan. Seperti bunga Kamboja dilambangkan sebagai kematian, buah delima dilambangkan  sebagai wanita cantik.


TEKA-TEKI

BAB II
TEORI

2.1 Definisi Teka-teki
Pertanyaan tradisional, di Indonesia lebih terkenal dengan nama teka-teki, adalah pertanyaan yang bersifat tradisional dan mempunyai jawaban yang tradisional pula. Pertanyaan dibuat sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan seringkali juga baru dapat dijawab setelah mengetahui lebih dahulu jawabannya. Teka-teki ini dapat dianggap sebagai salah satu hasil sastra melayu lama pada taraf permulaan, tetapi dapat juga disebut sebagai salah satu jenis folklor melayu. Sebagaimana diketahui dalam teka-teki, isi atau maksudnya tidak dapat dikemukakan  secara langsung tetapi disuruh untuk menerka, disamarkan atau disembunyikan.
Menurut Robert A. George dan Alan Dundes teka-teki adalah “ Ungkapan lisan tradisional yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang daripadanya dapat saling bertentangan dan jawabnya (referent) harus diterka “ (George & Dundes, 1963:113).
Selanjutnya menurut kedua sarjana itu teka-teki dapat digolongkan kedalam dua kategori umum, yakni : (1) teka-teki yang tidak bertentangan, dan (2) teka-teki yang bertentangan. Pembagian itu berdasarkan ada atau tidak adanya pertentangan diantara unsur-unsur pelukisan. Teka-teki yang tidak bertentangan unsur-unsur pelukisannya bersifat harfiah, yakni seperti apa yang tertulis (literal), atau kiasan (metaphorikal). Teka-teki bertentangan berciri pertentangan anatara paling sedikit sepasang unsur pelukisannya.
Uraian kategori dan analisa teka-teki diatas merupakan cara strukturalis dari Georges dan Dundes. Selain itu, masih ada banyak cara pengklasifikasian dan penganalisaan lainnya seperti dari Archer Taylor, seorang ahli folklor AS, yang kini sudah tiada lagi.
Archer taylor di dalam bukunya yang berjudul English Riddles from Oral Tradition (1951), telah membedakan teka-teki dalam dua golongan umum, yakni : (1) teka-teki yang sesungguhnya (true riddle) dan (2) teka-teki yang tergolong bentuk lainnya (lihat Brunvand, 1968: 49-58) perbedaan terletak pada hubungan yang ada pada jawab dengan pertanyaannya, sehingga dapat dipecahkan dengan logika. Hal itu berlaku pada teka-teki sesungguhnya, tetapi tidak berlaku pada teka-teki yang tergolong bentuk lainnya, karena pada golongan yang terakhir ini jawabnya tidak ada hubungan, sehingga tidak dapat diterangkan dengan mempergunakan logika saja, melainkan diperlukan pengetahuan tertentu (Brunvand, 1968:52).
Archer Taylor mencoba untuk mengklasifikasikan  teka-teki berdasarkan sifat hal yang digambarkan di dalam pertanyaan yang menurut dia ada tujuh kategori umum, yaitu sebagai berikut :
1.    Persamaan dengan makhluk hidup (” Makhluk apa, yang pada pagi hari mempunyai empat kaki, pada siang hari dua kaki, dan pada malam hari tiga kaki? “jawabnya: “Manusia!”)
2.    Persamaan dengan binatang (“ ayam apa yang berbulu terbalik, bermain di kebun?” jawabnya: “buah nenas”)
3.    Persamaan dengan berbagai binatang (“Dua ekor kelinci putih keluar masuk gua, apa itu?” jawabnya: “ ingus di hidung seorang anak kecil yang sedang pilek!”)
4.    Persamaan dengan manusia (“ nenek jatuh bersorak, apa itu?” jawabnya:”daun kelapa kering yang rontok, waktu jatuh kebumi menimbulkan suara keras.”)
5.    Persamaan dengan beberapa orang (“ anaknya bersarung induknya telanjang, apakah itu?” jawabnya: “rebung dan bambu.”)
6.    Persamaan dengan tanaman (“ jagung apa makan jagung di Cipanas ?” jawabnya:”jaksa agung”)
7.    Persamaan dengan benda (“ mas apa yang banyak di ekspor ke Lampung?” jawabnya:” mas jawa”)
Selain ketujuh kategori umum itu, menurut Archer Taylor masih ada empat kategori lagi, yang bukan  berdasarkan sifat hal yang digambarkan di dalam pertanyaan melainkan karena pertambahan keterangan yang lebih mendetail. Keempat kategori itu adalah sebagai berikut.
8.    Pertambahan keterangan perumpamaan (“ bulat bagaikan simpai, dalam bagaikan cangkir, seluruh sapi jantan raja tidak dapat menariknya. “ jawabnya:” sebuah sumur.”)
9.    Pertambahan keterangan pada bentuk dan fungsi (“tambal sini tambal sana, tetapi tidak ada bekas jahitannya.” Jawabnya : “sayur kubis.”)
10.    Pertambahan keterangan pada warna (“ dilempar keatas hijau, jatuh kebawah merah.” Jawabnya : “semangka”)
11.    Pertambahan dalam tindakan (“ buah apa yang dibuang luarnya, dimasak dalamnya, dimakan luarnya, dan dibuang dalamnya?” jawabnya adalah “buah jagung”).
Selain sebelas kategori Archer Taylor bagi teka-teki sebenarnya itu, Jan Harold Brunvand kemudian menambahkan dua lagi, yang ia sebut dengan nama neck riddle(teka-teki leher)  dan pretended obscene, yakni teka-teki yang seolah-olah cabul ( Brunvand, 1968:58). Untuk indonesia kiranya perlu ditambah satu yakni “teka-teki yang benar-benar cabul.
2.2 Jenis Teka-teki
Menurut Winstedt (1939:3), teka-teki digolongkan menjadi dua bagian, yaitu teka-teki bernilai sastra dan teka-teki tak bernilai sastra. Contoh teka-teki tak bernilai sastra misalnya, “tumbuhan apa yang mempunyai daun seperti pedang dan buahnya seperti gong?” jawabnya “nenas”. Sedangkan teka-teki yang bernilai sastra misalnya “ gendang gendut tali kecapi.” Maksudnya “ kenyang perut suka hati”.
Jenis teka-teki seperti ini telah dikumpulkan oleh OT Dussek dalam bukunya “teka-teki” (1918). Dalam bukunya tersebut, dijumpai berbagai macam teka-teki dalam lingkungan dunia tumbuh-tumbuhan, senjata, alat-alat musik, binatang, alam, tentang kelahiran, perkawinan, kematian, dan sebagainya.
Sebagai contoh :
“ Ketika kecil pakai baju hijau, sudah besar  pakai baju kesumba. Dari kecil baju hijau, setelah besar baju merah. Luarnya surga dalamnya neraka.” Jawabnya “ lombok ”.
“ Hitam legam seperti hantu, putih hatinya. Kecil berbaju merah, besar berbaju hijau, apabila hendak mati berbaju merah.” Jawabnya “manggis”.


Sabtu, 26 Mei 2012

PEMBAHASAN TEKA-TEKI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

          Folklor adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri khas yang unik sehingga dapat dibedakan dengan kelompok lainnya. Folklor diwariskan secara turun-temurun secara lisan dengan isyarat. Teka-teki merupakan salah satu bagian dari jenis folklor, mengingat folklor adalah cabang ilmu antropologi yang salah satunya adalah teka-teki.
        Jika kita bicara masalah folklor, maka tidak akan ada habisnya. Indonesia memiliki banyak sekali folklor yang telah berkembang dari dulu hingga sekarang. Mulai dari upacara adat, perkawinan, legenda, cerita rakyat, dan makanan khas dimasing-masing daerah. Tentunya, semua folklor yang berkembang membuat Indonesia menjadi bangsa yang arif dan berbeda dengan bangsa lainnya. Sekarang teka-teki merupakan salah satu tradisi lisan yang mulai mengabur dan cenderung terlupakan. Pada dasarnya teka-teki ini banyak menggunakan tanda atau lambang dalam menyatakan maksud dan isi secara tidak langsung.

1.2    Masalah
       Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi masalah pada makalah ini adalah bagaimana penjelasan mengenai teka-teki?

1.3    Tujuan
           Berdasarkan masalah yang dipaparkan di atas maka yang menjadi tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami teka-teki itu sendiri.

1.4    Manfaat
            Berdasarkan tujuan di atas, maka manfaat yang terkandung dalam penulisan makalah ini adalah agar penulis dan pembaca dapat memahami teka-teki.


TABEL

urutannama pacarHobby PacarTarget Pacar Barunama pacarnama pacarhambatan
pertamaItaTinjuTinjuTinjuTataistri orang
pertamaItaTinjuTataTataTataTataTataistri orang
pertamaItaTinjuTataTataTataistri orang
pertamaItaTinjuTataTataTataistri orang
pertamaItaTinjuTataTataTataistri orang
pertamaItaTinjuTataTataTataistri orang

ANALISIS


BAB III ANALISIS KESALAHAN
3.1    Data
         Data kesalahan penggunaan huruf kapital dalam skripsi Sitti Dharmanita yang berjudul Kecepatan Efektif Membaca (Kem) Siswa Kelas VIII Smp Negeri 2 Kendari :

1.    Ucapan terima kasih dan penghargaan terbesar penulis sampaikan kepada Ayahanda tercinta La Hamani dan ibu terkasih Suema (almh.) yang dengan tulusnya melahirkan, mengasuh dan membesarkan penulis hingga menjadi manusia dewasa dan berilmu serta segala pengorbanan, jerih payahnya untuk mencari nafkah demi membiayai studi penulis.    Ucapan terima kasih dan penghargaan terbesar penulis sampaikan kepada ayahanda tercinta La Hamani dan dan ibu terkasih  Suema (almh.) yang dengan tulusnya melahirkan, mengasuh dan membesarkan penulis hingga menjadi manusia dewasa dan berilmu serta segala pengorbanan, jerih payahnya untuk mencari nafkah demi membiayai studi penulis.
2.    Penulis juga ucapkan terima kasih kepada keluarga dan saudara-saudara penulis, Erni, Sari, Idul, Rahim, wulan, dan Ali yang senantiasa memberikan semangat kepada penulis.    Penulis juga ucapkan terima kasih kepada keluarga dan saudara-saudara penulis, Erni, Sari, Idul, Rahim, Wulan, dan Ali yang senantiasa memberikan semangat kepada penulis.
3.    Untuk mengukur tingkat pemahaman yang lengkap dari subjek peserta tes maka tes Kecepatan Efektif Membaca mencakup jenjang kognitif. jenjang kognitif yang dimaksud adalah sebagai berikut :    Untuk mengukur tingkat pemahaman yang lengkap dari subjek peserta tes maka tes Kecepatan Efektif Membaca mencakup jenjang kognitif. Jenjang kognitif  yang dimaksud adalah sebagai berikut :


3.2    Analisis
            Berdasarkan Ejaan Yang Disempurnakan, pedoman umum Ejaan Yang Disempurnakan tantang huruf kapital pada poin ke-14 huruf kapital juga dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman, yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan. Maka penulisan kata Ayahanda pada kalimat (Ucapan terima kasih dan penghargaan terbesar penulis sampaikan kepada Ayahanda tercinta La Hamani dan ibu terkasih Suema (almh.) yang dengan tulusnya melahirkan, mengasuh dan membesarkan penulis hingga menjadi manusia dewasa dan berilmu serta segala pengorbanan, jerih payahnya untuk mencari nafkah demi membiayai studi penulis.) tersebut keliru dan seharusnya tidak menggunakan huruf kapital  seperti pada tabel diatas.
         Dan pada buku Teknik Menulis Karya Ilmiah, penerapan Ejaan Yang Disempurnakan tantang huruf kapital pada poin keenam dijelaskan bahwa huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama orang. Maka penulisan nama Wulan dalam kalimat (Penulis juga ucapkan terima kasih kepada keluarga dan saudara-saudara penulis, Erni, Sari, Idul, Rahim, wulan, dan Ali yang senantiasa memberikan semangat kepada penulis.) itu keliru seharusnya nama Wulan harus menggunakan huruf kapital.
         Terdapat kekeliruan juga pada penggunaan huruf kapital pada huruf pertama awal kalimat seperti pada kalimat (Untuk mengukur tingkat pemahaman yang lengkap dari subjek peserta tes maka tes Kecepatan Efektif Membaca mencakup jenjang kognitif. jenjang kognitif yang dimaksud adalah sebagai berikut :) seharusnya kata jenjang tersebut menggunakan huruf kapital. Karena dalam KKBI, pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan tentang huruf kapital, pada poin pertama dijelaskan bahwa huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.